Print

Atraksi Tundang Meriahkan Festival Saprahan 2015

Bagikan posting

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn

 

Dalam Festival Saprahan Tingkat Kota Pontianak Tahun 2015 yang dilaksanakan di Pontianak Convention Center (PCC), Kamis (1/10) lalu, terdapat penampilan yang menarik perhatian undangan dan peserta, penampilan tersebut adalah atraksi Tundang (Pantun Berdendang) yang dibawakan oleh Kelompok Kesenian Siswa-Siswa  MTs Al-Ma’arif Kota Pontianak.

Penampilan kelompok kesenian  yang memenangkan perlombaan syair Tundang dalam rangka Hari Jadi Kota Pontianak yang ke – 244 tahun selama 20 menit tersebut,  cukup menghibur para undangan dan peserta yang hadir, karena diisi dengan syair-syair yang mampu mengundang gelak tawa para hadirin sekalian.

Tundang awalnya berarti pantun bergendang karena pelantun melantunkan pantun sambil bergendang, namun setelah alat (instrumen) yang digunakan bertambah dan dikolaborasikan juga dengan tarian maka Tundang berubah arti menjadi pantun berdendang. Materi Tundang tidak hanya berbentuk pantun, akan tetapi juga berupa syair, sekalipun kesenian ini tetap bernama Tundang karena akrabnya nama itu di tengah-tengah masyarakat, hingga sampai sekarang kesenian ini dikenal dengan sebutan Tundang.

Tundang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1992 di Sanggau oleh Eddy Ibrahim. Kesenian Tundang lahir dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk dapat menyampaikan aspirasi dan gagasan melalui sebuah media, melalui media tersebut selain dapat menyampaikan gagasan, diharapkan juga bisa membuat orang yang mendengarnya merasa senang. Untuk mencapai tujuan tersebut, Eddy kelahiran Pontianak pada 21 April 1963 menciptakan Tundang sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi dan gagasannya. Pesan dalam kesenian Tundang disampaikan melalui syair dan pantun yang bersifat fleksibel, artinya disesuaikan dengan tema atau situasi dan kondisi.